Bagaimana Cara Berbicara dengan Gadis-gadis di Pesta

Bagaimana Cara Berbicara dengan Gadis-gadis di Pesta

“How To Talk To Girls at Parties” oleh Neil Gaiman terbit pertama kali tahun 2007, diterjemahkan dari bahasa Inggris oleh Miguel Angelo Jonathan. Terjemahan ini dimuat kibul.in pada 10 November 2020. Pranala terjemahannya: https://kibul.in/terjemahan/terjemahan-cerpen/bagaimana-cara-berbicara-dengan-gadis-gadis-di-pesta-neil-gaiman/

“Ayo lah,” kata Vic. “Ini akan hebat.”

“Tidak, tidak akan,” kataku, meski aku telah kalah dalam perdebatan ini berjam-jam lalu, dan aku tahu itu.

“Ini akan cemerlang,” kata Vic, untuk yang keseratus kalinya. “Gadis! Gadis! Gadis!” Dia menyeringai dengan gigi putih.

Kami berdua memasuki sekolah khusus laki-laki di London selatan. Walaupun akan menjadi suatu kebohongan bila mengatakan kami tak memiliki pengalaman dengan perempuanVic tampaknya memiliki banyak pacar, sementara aku pernah mencium tiga teman saudara perempuankuitu akan, pikirku, sangatlah tepat untuk mengatakan kalau kami berdua lebih banyak berbicara, berinteraksi, dan hanya benar-benar memahami anak lelaki lain. Ya, aku begitu, bagaimanapun. Sulit untuk berbicara dengan orang lain, dan aku sudah tidak melihat Vic selama tiga puluh tahun. Aku tidak yakin aku akan tahu apa yang hendak kukatakan padanya sekarang jika aku menemuinya.

Kami berjalan di jalan belakang yang dulu berkelok-kelok dalam labirin kotor di belakang stasiun East Croydonseorang teman memberi tahu Vic tentang sebuah pesta, dan Vic bertekad untuk pergi entah aku suka atau tidak, dan aku tidak. Tetapi minggu itu orang tuaku sedang pergi ke sebuah konferensi, dan aku adalah tamu Vic di rumahnya, jadi aku mengikut saja di sampingnya.

“Ini akan berakhir sama sebagaimana yang selalu terjadi,” kataku. “Setelah satu jam kamu akan pergi ke suatu tempat mencumbu gadis tercantik di pesta, dan aku akan berada di dapur mendengarkan ibu seseorang berceloteh tentang politik atau puisi atau suatu hal lainnya.”

“Kamu hanya perlu berbicara dengan mereka,” katanya. “Kupikir itu mungkin jalan di ujung sini.” Dia memberi isyarat riang, mengayunkan tas dengan botol di dalamnya.

“Bukannya kamu tahu?”

“Alison memberikanku arahan dan aku menuliskannya di secarik kertas, tapi aku meninggalkannya di meja aula. Santai. Aku bisa menemukannya”

“Caranya?” Harapan mengalir perlahan di dalam diriku.

“Kita telusuri jalan,” katanya, seolah-olah berbicara kepada anak idiot. “Dan kita cari pestanya. Gampang.”

Aku mengamati, tetapi tidak menemukan satu pun pesta: hanya rumah-rumah sempit dengan mobil berkarat atau sepeda di taman depan berbeton mereka; dan kaca berdebu bagian depan lapak koran, yang berbau sepeti bumbu-bumbu asing dan menjual segala sesuatu mulai dari kartu ulang tahun dan komik bekas hingga jenis majalah yang begitu porno sehingga mereka dijual sudah disegel dalam kantong plastik. Aku pernah ke sana ketika Vic menyelipkan salah satu majalah itu ke balik sweternya, tetapi pemiliknya menangkapnya di trotoar luar dan membuatnya mengembalikannya.

Kami sampai di ujung jalan dan berbelok ke jalan sempit rumah-rumah bertingkat. Semuanya tampak sunyi dan kosong di malam musim panas. “Tidak ada masalah untukmu,” kataku. “Mereka menyukaimu. Kamu sebenarnya tidak perlu berbicara dengan mereka.” Memang benar: satu senyum keparat dari Vic dan dia bisa mendapatkan pilihan untuk kamarnya.

“Ah. Gak begitu. Kamu hanya perlu berbicara.”

Lanjutkan membaca “Bagaimana Cara Berbicara dengan Gadis-gadis di Pesta”

Anjing Kesayangan Ibu

Anjing Kesayangan Ibu

Cerpen ini dimuat di Nyimpang.com pada 4 Januari 2020 lalu. Sayangnya, saat situs Nyimpang.com hibernasi selama beberapa waktu hingga aktif lagi pada Oktober 2020, tulisan-tulisan yang sempat termuat di Nyimpang.com hilang seluruhnya, termasuk cerpen ini. Saya memuatnya dalam blog ini agar cerpen ini bisa kembali dibaca dan tidak tersimpan di folder laptop saya sendiri. Selamat membaca!

Miguel Angelo Jonathan, 28 Agustus 2017

Namaku Andi Hermawan. Aku tinggal berdua dengan ibuku, ditemani seekor anjing yang bernama Tono. Sudah beberapa bulan ini anjing kami, si Tono, melarikan diri dari rumah. Kini ibuku menjadi sangat murung. Ibu memang benar-benar sayang kepada anjing itu.

Tono sudah sering pergi dari rumah. Biasanya dia melarikan diri bukan karena diperlakukan tidak baik. Anjing itu sering bosan saja berada di rumah kami. Tatkala bosan, Tono balakan pergi keluyuran ke rumah orang lain. Tak jarang juga dia berkelana dan tidur di jalanan, seperti beberapa kali saat aku temukan sewaktu dulu. Dan, seperti yang sudah-sudah, Tono pastinya akan datang kembali ke rumah kami. Selalu.

Ya memang sih, belakangan ini perlakuanku kasar pada anjing itu. Aku memang tidak suka padanya. Aku bahkan tidak pernah mau menganggapnya sebagai anjing peliharaanku. Ibuku saja yang selalu senang memelihara dan merawatnya, betapa pun buruknya anjing itu. Kalau bukan karena ibuku, sudah pasti akan kuusir dia dari rumah untuk selama-lamanya, atau bahkan mungkin akan kutimpuk kepalanya dengan batu, biar dia mampus.

Dia merupakan ras anjing paling jelek, yang bahkan lebih buruk dari anjing kampung sekali pun. Penampilannya acak-acakan, bau badannya seperti air comberan, dan perilakunya seburuk perawakannya. Menjijikkan adalah hal pertama yang akan terpikirkan olehmu saat melihat anjing itu. Mungkin ini juga yang menyebabkan anjing ini sulit ditemukan. Tentunya tak akan ada yang mengira kalau anjing ini ternyata punya seorang pemilik.

Aku sendiri bingung, kenapa ibu mau memelihara anjing seperti itu. Apakah karena anjing itu punya kesan tersendiri buat Ibu? Tapi ya ampun, tidak ada hal baik dalam diri anjing itu. Tidak bisa menjaga rumah, tidak bisa menghibur kami, dan memeliharanya hanya membuang-buang uang saja. Anjing tidak tahu diri itu sudah menyusahkan ibu selama bertahun-tahun.

Pernah suatu ketika, si Tono memecahkan piring tempatnya makan lalu menyerang ibuku dengan tiba-tiba, tanpa adanya alasan yang jelas. Dia memang sering melakukan itu. Saat aku kecil, aku hanya akan diam dan membiarkannya saja, karena aku pun takut diserang dan digigit olehnya. Jadi aku cuma bisa menyaksikan Tono beraksi bagai anjing rabies penyakitan.

Belum lama ini, hal itu terjadi lagi. Kali ini wadah tempat minum dipecahkan olehnya. Dan ia menyalak dan menyerang ibu dengan tidak karu-karuan. Masalahnya, sekarang aku sudah besar, sudah kuat. Maka dari itu aku balas menghajar dan menendangnya secara membabi buta.

Anjing itu meraung-raung tidak karuan. Aku jotos mulutnya biar ia tak bisa melolong lagi. Tapi kemudian ibuku menangis dan menyuruhku berhenti memukulinya. “Andi, berhenti! Hentikan sekarang juga!” Aku tak suka melihat ibu menangis. Maka akhirnya aku lepaskan dia, dan Tono langsung lari terbirit-birit, keluar dari rumah. Dia menghilang selama satu minggu, sebelum akhirnya dia kembali lagi, untuk makan dan tidur.

Lanjutkan membaca “Anjing Kesayangan Ibu”

Abstraksi Diri Manusia

Abstraksi Diri Manusia

Tulisan ini dimuat dalam laman ideide.id pada 24 September 2019. Pranala: https://ideide.id/abstraksi-diri-manusia.html

Miguel Angelo Jonathan, 14 September 2019

Ada pendapat yang mengatakan bahwa moralitas manusia berkembang seiring berlalunya waktu. Itulah sebabnya kini perbudakan, pembunuhan hewan, ataupun pemberian hukuman mati kepada tersangka kriminal mulai dilarang dan ditentang di berbagai belahan bumi ini. Padahal jika kita memutar sedikit arah waktu selama beberapa ratus tahun ke belakang, hal-hal yang baru saja disebutkan itu sebelumnya dianggap sebagai hal yang wajar-wajar saja.

Namun, walau manusia yang disebut sapiens (bijak) itu kini dianggap telah memasuki abad modernitas dengan segala perkembangan teknologi dan moralitas yang katanya sudah tinggi, nyatanya pelanggaran-pelanggaran atas martabat manusia masih saja dengan mudah kita temui. Apalagi, bentuk terngerinya kita jumpai dalam peristiwa pembantaian manusia yang mengerikan.

Tujuh puluh tahun lalu ketika perang dunia kedua berlangsung, Nazi Jerman melakukan genosida terhadap 6 juta masyarakat Yahudi di seluruh Eropa. Dua dekade setelahnya, rezim Soeharto di Indonesia juga membantai sekitar 2-3 juta manusia tertuduh komunis. Di Myanmar, belum lama ini terjadi pula pembunuhan sistematis terhadap etnis Rohingya dengan korban yang diperkirakan sebanyak 50 ribu orang.

Peristiwa genosida yang disebut itu hanyalah beberapa contoh dari berbagai pembantaian lainnya yang terjadi selama satu abad terakhir. Kengerian atas pembunuhan besar-besaran ini diperparah dengan kenyataan bahwa tak sedikit dari manusia yang katanya bermoral itu mewajarkan genosida yang terjadi, dan bahkan ada pula yang berharap peristiwa tersebut bisa mereka ulangi dan lakoni. Seperti misalnya seorang keturunan pasukan Nazi Jerman yang ditemui Etgar Keret dan diceritakan dalam bukunya The Seven Good Years (2016), yang dengan bangganya mengatakan ingin bisa mengalahkan rekor kerabatnya dalam membunuh orang Yahudi.

Orang-orang semacam yang ditemui Etgar Keret itu menganggap manusia-manusia yang dibuat mampus dan menjadi korban genosida memang pantas dibasmi dari muka bumi. Para korban genosida dalam pandangan mereka dianggap tak lebih umpamanya seperti babi, anjing, ataupun kecoa. Oleh karena derajatnya dilihat lebih rendah, orang-orang yang dibuat mati pun tak melahirkan rasa empati atau kesedihan, tetapi justru tak jarang malah rasa damai dan tenang.

Keadaan seperti ini sepatutnya melahirkan pertanyaan pada diri setiap manusia yang masih “waras”. Apa kiranya penyebab manusia dengan teganya saling bantai demi suatu ajaran, kepercayaan, atau ideologi yang dianut, dan kenapa pula para algojo yang membunuh tak merasa sedih ataupun menyesal atas perbuatan mereka?

Lanjutkan membaca “Abstraksi Diri Manusia”

Berisi Pakaian dan “Mengeluarkan” Cinta

Berisi Pakaian dan “Mengeluarkan” Cinta

Tulisan ini dimuat di majalah Basis Nomor 03-04 Tahun 2020. Judul aslinya “Memandang Koper, Menemui Identitas”.

Miguel Angelo Jonathan, 7 Desember 2019

Pakaian adalah manifestasi identitas si pemakai. Dalam busana yang dikenakan manusia mewujudkan dan menunjukkan jati diri mereka pada orang lain. Sebagaimana yang dituliskan Afrizal Malna dalam puisi berjudul “ekaristi 1977” di Kompas pada 7 Desember 2019. Salah satu bagiannya berbunyi begini: “aku menenteng pakaian seorang gubernur jenderal. Dia sangat berkuasa dalam pakaiannya.

Jenderal nampak berkuasa ketika memakai seragamnya. Sebab dengan seragam dinasnya itu ia baru terlihat berwibawa. Dan tak hanya jenderal saja yang terpengaruh oleh pakaian. Pekerjaan-pekerjaan lain, dan bahkan seorang yang sedang berjalan-jalan santai bakalan memperhatikan pakaian apa yang mereka gunakan untuk tunjukkan mereka punya identitas pada orang lain. Entah dengan pakaian bermerek, dinas, ataupun yang sederhana buat perlihatkan sifat mereka.

Pakaian adalah suatu bagian dari cara hidup, sebuah “eere code”. Begitulah yang Kwee Thiam Tjing katakan dalam “Wild West Djournalism” di harian Indonesia Raya pada 25-28 Februari 1972. Mengenang keadaan ketika menjadi jurnalis pada masa lampau, ia menyebutkan bahwa pada saat itu adalah keharusan jika keluar rumah memakai jas, dasi, dan topi. Jika tak mengenakannya, orang bakalan disebut “tjoel-tjoelan”, alias serampangan.

Lekatnya masalah identitas dalam pakaian secara tidak sadar juga memengaruhi bagaimana pakaian itu sendiri diperlakukan, terutama ketika hendak berpergian jauh. Pilihan-pilihan benda untuk menaruh pakaian turut serta pula dalam perwujudan identitas, dan tak jarang juga penunjukkan status sosial.

Sebuah siaran di salah satu saluran televisi nasional berjudul Koper & Ransel menunjukkan hal itu secara tidak langsung. Siaran itu sendiri berupa acara hiburan wisata ke berbagai tempat yang biasanya dipandu dua orang. Acap kali di acara Koper & Ransel, ditampilkan dua wisata jalan-jalan yang berbeda. Pertama menggunakan koper kemudian ransel, ataupun sebaliknya. Menariknya, perjalanan menggunakan koper dalam tayangan tersebut lekat dengan tempat-tempat penginapan mewah. Pakaian pembawa acara yang menggunakan koper juga terlihat lebih menawan. Berbeda ketika bagian ransel ditampilkan. Pembawa acara seringnya tampak memakai kaos pada umumnya, tak ada kesan mewah sama sekali.

Perbedaan antara koper dan ransel memang bisa tampak dalam pengamatan sehari-hari. Mereka yang memutuskan bersenang-senang ke tempat jauh menggunakan pesawat jelas bakalan lebih sering terlihat menarik ataupun menjinjing koper dibandingkan membawa ransel. Berbeda kondisinya jika dolan diputuskan menggunakan kereta. Koper takkan jadi pilihan menaruh pakaian sebab bakalan dilihat konyol oleh para penumpang lain. Secara tidak langsung, bisa dikatakan bahwa koper menjadi pilihan orang yang lebih berduit.

Lanjutkan membaca “Berisi Pakaian dan “Mengeluarkan” Cinta”

Homo Simbolisme

Homo Simbolisme

Tulisan ini dimuat di Mimbar Mahasiswa Solopos, 25 Februari 2020.

Miguel Angelo Jonathan, 12 Februari 2020

Nampaknya secara tidak sadar kita ini telah menjelma jadi masyarakat yang hidup dalam budaya simbol. Kita membuat simbol dan slogan mengenai berbagai macam hal, tetapi pada akhirnya berbagai macam hal yang dimaksud itu hanya berakhir dalam rupa simbol dan slogan belaka.

Mochtar Lubis dalam beberapa kesempatan mengatakan bahwa masyarakat Indonesia pintar membuat simbol dan slogan. Misalnya, membuat simbol keadilan, slogan kesetaraan, dan macam-macam lagi. Dengan adanya simbol dan slogan itu masyarakat cepat merasa bahwa apa yang dimasukkan dalam slogan itu sudah dijalankan meski dalam realitasnya belum terwujud sama sekali.

Ada kejadian cukup “menarik” yang menunjukkan gelagat budaya simbol itu di beberapa kampus dan terekspos belum lama ini. Salah satu Badan Eksekutif Mahasiswa fakultas di Universitas Negeri Jakarta (UNJ) dan Lembaga Dakwah salah satu fakultas di Universitas Gadjah Mada (UGM) memburamkan foto pengurus perempuan dalam unggahan kepengurusan baru organisasi mereka. BEM dari fakultas lain di UNJ malahan mengganti foto pengurus perempuannya dengan sesosok kartun perempuan berhijab.

Satu hal yang lucu bagi saya adalah pembelaan yang mengatakan bahwa pemburaman yang dilakukan terhadap foto pengurus perempuan dilakukan guna menutup aurat mereka agar tidak terlihat kaum pria. Kalau berbicara mengenai aurat, kenapa foto pengurus prianya juga tidak diburamkan. Bukankah pria juga memiliki aurat yang harus ditutupi. Atau, jangan-jangan kaum perempuan lebih hebat dalam mengurusi urusan nafsu, sedangkan kaum pria begitu tidak mampu mengontrol nafsu mereka sampai-sampai foto perempuan harus diburamkan dan bahkan diganti jadi kartun segala. Kalau memang begini, kaum pria nampaknya harus belajar dari perempuan untuk mengontrol berahi mereka.

Dari segala macam pembelaan dan klarifikasi yang sudah diberikan, pembedaan gender yang terjadi jelas terlihat. Bahwa hanya pihak pengurus perempuan yang diburamkan atau diganti menjadi sosok kartun pada foto kepengurusan tentu patut dipertanyakan. Ini menunjukkan adanya bias gender dalam lingkungan kampus.

Menyangkut budaya simbol, kita jadi mendapati semacam kontradiksi. Masyarakat masih dengan mudahnya menemukan perlakuan negatif berupa pembedaan antara perempuan dengan laki-laki, padahal pemerintah telah menunjukkan bahwa secara garis besar Indonesia tidak membeda-bedakan gender dalam simbol-simbol kenegaraan.

Lanjutkan membaca “Homo Simbolisme”

Samsir si Penjaga Uang Kuno

Samsir si Penjaga Uang Kuno

Liputan ini dimuat di detik.com pada 21 September 2019 dengan judul “Kisah Sang Penjaga Uang Kuno”. Pranala situs:

https://news.detik.com/kolom/d-4715746/kisah-sang-penjaga-uang-kuno

Miguel Angelo Jonathan, 10 September 2019

Ketika memasuki Pasar Baru melalui Jalan Antara, para pengunjung segera disuguhi pemandangan toko-toko yang menjual berbagai macam barang. Ada yang menjual kain, sepatu, kacamata, baju, dan masih banyak lagi. Kegiatan belanja menjadi semakin menarik sebab beberapa toko masih mempertahankan bentuk gedungnya seperti sediakala saat pertama kali berdiri. Juga tentunya beraneka ragamnya jajanan yang tersedia menambah kemeriahan berbelanja di Pasar Baru.

Di tengah keramaian suasana Pasar Baru itu, pengunjung bisa menangkap keberadaan sesosok sepuh yang duduk di sebuah kursi plastik, di depan toko sepatu New Pasar Baru. Di sampingnya diletakkan sebuah papan kayu persegi di atas sebuah kursi plastik. Jika pengunjung mendekat, lekaslah terlihat beragam koin dan uang kertas yang dijajakan di papan tersebut. Pak tua itu ternyata menjual uang-uang kuno.

Namanya Samsir, seorang sepuh kelahiran tahun 1939 yang sudah melakukan aktivitas jual-beli di Pasar Baru sejak medio akhir 1950-an. Samsir biasanya menjajakan uang-uang kunonya saat pagi dan pulang pada sore hari. Berjualan uang kuno sudah menjadi aktivitas harian yang dilakukan Samsir setiap harinya.

Uang kuno yang dijualnya bervariasi. Samsir tidak hanya menjual uang asal Indonesia, tetapi juga uang-uang keluaran luar negeri. Uang kuno paling tua yang dijual Samsir merupakan koin sen dolar Amerika pertengahan 1800-an, serta koin kepeng asal Tiongkok yang kemungkinan berasal dari permulaan abad ke-20. Sementara untuk uang paling baru yang dijualnya adalah uang kertas Rp1000 yang berwajahkan Pattimura, yang sejak tahun 2014 sudah berhenti dicetak oleh Bank Indonesia.

Ia menjejerkan koin-koin kunonya di atas papan. Sedangkan untuk uang-uang kertas, Samsir menyimpannya di dalam sebuah album. Selain uang-uang resmi keluaran pemerintah, Samsir juga menjual uang kuno permainan kasino serta materai berusia lawas. Ketika ditanyai seputar uang-uang yang dijualnya itu, Samsir menjawabnya dengan nada suara yang tenang dan sabar. Namun, di balik perawakan Samsir yang terlihat sederhana dan tenang itu, ia menyimpan kisah perjuangan hidup yang tak setenang lautan damai.

Lanjutkan membaca “Samsir si Penjaga Uang Kuno”

Lingkaran Setan Rasialisme

Lingkaran Setan Rasialisme

Tulisan saya mengenai permasalahan rasialisme, mengambil contoh etnis Tionghoa di Indonesia dan masyarakat kulit hitam di Barat ini terbit di Balai Buku Progresif pada 10 Agustus 2019. Pranalanya:

https://bukuprogresif.com/2019/08/10/lingkaran-setan-rasialisme/

Miguel Angelo Jonathan, 5 Agustus 2019

Mengatakan bahwa rasisme lahir dari sebuah stereotip atau sebuah prasangka yang dianggap secara garis besar menggambarkan situasi yang nyata merupakan sebuah persepsi yang salah juga menyesatkan.  Apa yang dimaksud dengan “prasangka yang menggambarkan situasi secara garis besar” di sini adalah suatu pemikiran di mana rasialisme dianggap ada dan berkembang oleh karena keadaan yang benar adanya, alias sesuai dengan fakta.

Dalam pemikiran ini, perilaku rasis dilihat sebagai sesuatu yang “tidak buruk-buruk amat”, karena rasisme pada pandangan tersebut adalah hasil dari keadaan yang dianggap nyata. Jadi, sebelum “kedaan nyata” itu berubah, pemikiran rasis sah-sah saja bercokol di kepala orang banyak, karena toh faktanya “ya memang begitu”.

Pandangan seperti itu kerap terjadi pada golongan masyarakat yang teralienasi dan merupakan minoritas dalam suatu lingkungan mayoritas. Contoh dekatnya terjadi pada masyarakat Tionghoa di Indonesia atau masyarakat berkulit hitam di Barat. Keduanya kerap diidentikan dengan sikap, keadaan, maupun kebiasaan yang buruk. Anggapan yang mengacu pada hal-hal tersebut acap kali dilihat sebagai pewarta keadaan dan oleh karena itu tak menjadi soal pelik.

Di Indonesia, etnis Tionghoa diidentikan sebagai “binatang ekonomi” yang senang meraup keuntungan. Mereka dianggap hanya mau berbisnis tanpa mau memikirkan urusan lainnya. Etnis Tionghoa apatis, tidak punya rasa nasionalis, dan angkuh. Bukti yang disodorkan adalah orang-orang Tionghoa kota yang semuanya (nampaknya) berurusan dengan dunia perdagangan dan tak mau bekerja di bidang lain, terutama pemerintahan dan kemiliteran.

Sementara itu, di barat (Eropa dan Amerika), masyarakat kulit hitam dicap sebagai ras yang bodoh dan lebih inferior dibandingkan orang kulit putih. Mereka dikatakan sebagai ras yang pemalas, kasar, dan tidak cerdas. Bukti yang disodorkan adalah bahwa jumlah intelek kulit hitam tak sebanyak intelek kulit putih, apalagi yang menduduki jabatan-jabatan di sektor penting hanya terdiri dari segelintir orang kulit hitam. Penelitian yang mengatakan gen kulit hitam lebih bodoh dari gen kulit putih yang dasarnya tidak kuat bahkan dijadikan landasan teori bahwa ras kulit hitam sudah bodoh “dari sananya”.

Jadi, dalam benak orang-orang yang memiliki pandangan di atas, sikap rasis pada orang Tionghoa bukanlah masalah karena memang mereka semuanya hanya “binatang ekonomi” belaka yang angkuh. Begitu pula perlakuan merendahkan orang kulit hitam bukanlah hal buruk, sebab pada dasarnya memang orang kulit hitam bodoh dan inferior. Sebelum kondisi tersebut berubah, rasisme tak menjadi hal yang buruk.

Pandangan tersebut melahirkan dua sesat pikir yang membahayakan. Pertama, rasialisme jadi dilihat sebagai sesuatu yang lahir dari keadaan alamiah. Karena sudah terlanjur berpikir demikian, masyarakat dibuat tak lagi kritis dan menerimanya begitu saja sebagai suatu fakta, padahal ada akar-akar yang menyebabkan kondisi rasialisme itu terjadi.

Lanjutkan membaca “Lingkaran Setan Rasialisme”

Mitos Dominasi Ekonomi Orang Tionghoa (The Chinese Economic Domination Myth)

Mitos Dominasi Ekonomi Orang Tionghoa (The Chinese Economic Domination Myth)

Jakarta Post. 15 Agustus, 1998

Oleh George Junus Adijondro

(Diterjemahkan oleh Miguel Angelo Jonathan dari bahasa Inggris)

“Orang Tionghoa hanya berjumlah 3.5% dari total populasi, tetapi mengontrol 70% perekenomian Indonesia”

Mitos ini telah diulang-ulangi dengan begitu seringnya sekarang oleh pers dunia, hingga semuanya, termasuk yang bersimpati terhadap nasib buruk Tionghoa Indonesia, tampak memercayainya. Salah satu referensi terbaru mengenai mitos ini adalah sebuah wawancara Menteri Luar Negeri Australia Alexander Downer dengan Far Eastern Economic Review pada 7 Agustus.

Sejauh yang bisa saya selidiki, mitos ini bermula dari sebuah bagian studi di tahun 1995 oleh Michael Backman, Pejabat Eksekutif dengan Unit Analisis Asia Timur dari Departemen Luar Negeri dan Perdagangan Australia di Canberra. Dalam studi otoritatifnya, berjudul “Jaringan Bisnis Tionghoa Perantauan di Asia” [Overseas Chinese Business Networks in Asia], di halaman 40 dan 41 dia menyatakan bahwa: “Tionghoa-Indonesia [Sino-Indonesians] mengontrol sekitar 73 persen perusahaan yang terdaftar oleh kapitalisasi pasar. Pada akhir 1993, Tionghoa-Indonesia (yang berjumlah 3.5 persen dari seluruh orang Indonesia) mengontrol 68 persen dari 300 konglomerat teratas dan sembilan dari sepuluh besar kelompok sektor swasta.”

Apa yang tampaknya banyak dilewatkan “spesialis instan” pada orang Tionghoa Indonesia adalah catatan kaki yang berhubungan dengan kedua kalimat itu, yang menjelaskan apa yang dimaksud dengan “kapitalisasi pasar.” Disebutkan bahwa: “Kontrol oleh kapitalisasi pasar ditentukan setelah perusahaan terdaftar yang dikendalikan oleh pemerintah atau orang asing dihilangkan [dari daftar].”

Dengan kata lain, minoritas Tionghoa di Indonesia jauh dari mengendalikan 70 persen ekonomi Indonesia. Setelah menghilangkan peran investor asing seperti Freeport McMoRan yang mengontrol mayoritas saham di pembayar pajak terbesar Indonesia, PT Freeport Indonesia, Inc., dan Coca Cola Amatil, dan perusahaan milik negara seperti sepuluh industri strategis yang sebelumnya dikelola Dr B.J. Habibie dan perusahaan minyak milik negara yang menguntungkan, Pertamina di perekonomian Indonesia, perusahaan swasta besar yang tersisa memang dikendalikan oleh segelintir keluarga bisnis Tionghoa, seperti keluarga Liem Sioe Liong, Eka Tjipta Widjaja, dan Pragojo Pangestu.

Lanjutkan membaca “Mitos Dominasi Ekonomi Orang Tionghoa (The Chinese Economic Domination Myth)”

Senjakala Sebuah Perpustakaan

Senjakala Sebuah Perpustakaan

(Perpustakaan Japan Foundation sebelum ditutup)

Tulisan ini dimuat di detik.com pada 8 Agustus 2019. Liputan dilakukan ketika Perpustakaan Japan Foundation dalam proses penutupan. Pranala tulisan yang dimuat: https://news.detik.com/kolom/d-4657599/senjakala-sebuah-perpustakaan

Miguel Angelo Jonathan, 2 Agustus 2019

Perpustakaan Japan Foundation (JF) dikenal luas di kalangan mahasiswa Jurusan Sastra/Pendidikan Bahasa Jepang universitas-universitas Indonesia, maupun oleh para peminat kebudayaan dan sejarah Jepang. Tak sedikit mahasiswa tingkat akhir yang terbantu dengan adanya perpustakaan itu, sebab perpustakaan JF memiliki koleksi pustaka berkualitas yang terdiri dari bahasa Jepang, Inggris, juga Indonesia, yang sangat diperlukan sebagai bahan rujukan penelitian. Namun semuanya kini tinggal kenangan. Perpustakaan JF telah ditutup selamanya.

Pada tanggal 27 Juni silam, perpustakaan Japan Foundation tampak kosong melompong. Tak ada lagi buku dan majalah yang biasanya memenuhi perpustakaan tersebut. Ruangan hanya diisi rak-rak tanpa buku dan kardus-kardus cokelat di lantai. Perpustakaan sedang dalam tahap pengosongan.

Beberapa orang tampak lalu lalang di perpustakaan. Mereka terlihat sibuk mengurusi kardus-kardus yang berisikan koleksi buku perpustakaan JF. Salah satu di antara mereka adalah Sushanty Chandradewi, penanggung jawab sekaligus pustakawan perpustakaan JF. Perempuan yang lahir di Subang, Jawa Barat di tahun 1968 ini telah bekerja di perpustakaan JF selama 19 tahun. Dengan ditutupnya perpustakaan JF, kini posisinya adalah Senior Communication Officer di divisi Communication Center Japan Foundation.

Berdasarkan penuturan Sushanty, JF ternyata sudah tidak menerima pendaftaran anggota perpustakaan sejak Januari 2019. Lalu, sejak April 2019, semua anggota sudah tidak dapat meminjam buku untuk dibawa pulang, tetapi masih diperbolehkan membacanya di perpustakaan. Tanggal 28 Mei 2019 menjadi hari terakhir perpustakaan dibuka untuk umum.

Berakhir setelah 50 tahun

Perpustakaan JF telah berdiri selama 50 tahun, bersamaan dengan berdirinya Japan Foundation di Indonesia pada tahun 1979. Pendirian perpustakaan JF didasari sebagai pendukung tujuan berdirinya The Japan Foundation Jakarta, yaitu untuk memperkenalkan kebudayaan Jepang kepada bangsa Indonesia dan menunjang studi Jepang kepada para peminat sosial budaya bangsa Jepang. Perpustakaan JF mewujudkannya dengan menyebarluaskan informasi melalui media cetak dan elektronik dan mewujudkan penyajian informasi yang aktual baik bahasa maupun sosial budaya Jepang.

Lanjutkan membaca “Senjakala Sebuah Perpustakaan”

Mengubah Ide Lama, Menolak Diskriminasi Tionghoa

Mengubah Ide Lama, Menolak Diskriminasi Tionghoa

Tulisan saya mengenai permasalahan rasialisme yang menimpa etnis Tionghoa ini terbit di Balai Buku Progresif pada 11 Juli 2019. Pranalanya:

https://bukuprogresif.com/2019/07/11/mengubah-ide-lama-menolak-diskriminasi-tionghoa/

Miguel Angelo Jonathan, 9 Juli 2019

Diskriminasi pada etnis tertentu di Indonesia masih menjadi masalah utama yang harus diselesaikan oleh pemerintah. Posisi etnis minoritas dalam kehidupan berbangsa belum terjamin dengan baik, mereka sering kali dijadikan kambing hitam pada banyak situasi dan keadaan buruk yang menimpa masyarakat mayoritas. Hubungan antara minoritas dan mayoritas yang buruk tersebut sampai membuat Geger Riyanto menulis tulisan sarkatis berjudul “Di Altar Kehendak Mayoritas, Minoritas adalah Korban Sajian” di situs Indoprogress.

“Di altar kehendak mayoritas, minoritas adalah korban sajian yang diminta,” tulis Geger, mungkin dengan perasaan miris. Nasib para minoritas, terutama yang kondisi ekonominya buruk, seakan menjadi sebuah mimpi buruk kehidupan yang teramat sangat. Di Indonesia, misalnya, diskriminasi yang cukup sering terjadi diarahkan pada etnis Tionghoa. Mereka dianggap sebagai perampok kekayaan “pribumi”, para manusia yang hanya suka mencari uang saja. Beragam usaha sudah dilakukan untuk meperteguh kesatuan dan menghilangkan prasangka rasialis tersebut. Namun, nyatanya keadaan tak banyak berubah. Mungkin ada baiknya kita menyimak persoalan mengenai “ide baru” dan “ide lama” untuk membahas permasalahan ini lebih lanjut.

Pada kasus diskriminasi etnis yang diarahkan pada orang Tionghoa, kita mengibaratkan usaha pemerintah untuk meperteguh kebhinekaan sebagai suatu ide baru yang hendak dijalankan. Ide lamanya, berupa pandangan dan presepsi kebanyakan masayarakat mengenai orang-orang Tionghoa Indonesia. Ide lamanya terwujud dalam pemikiran seperti apa? Yaitu anggapan bahwa orang Tionghoa seluruhnya culas dan licik, hanya mau berdagang serta mencari uang dan tak mau ikut serta dalam usaha pembangunan bangsa. Dalam pemikiran ide lama ini, orang Tionghoa Indonesia digambarkan sebagai etnis yang sungguh buruk perangainya, dan lebih lagi, sebagai suatu masayarakat yang tidak termasuk dalam bagian internal bangsa Indonesia.

Tentu saja usaha merawat dan meningkatkan kebhinekaan hanya akan menjadi omong kosong serta sia-sia belaka tanpa terlebih dahulu mengubah pandangan negatif masyarakat yang sudah lama terpatri tersebut. Sejak Soeharto melakukan kudeta merangkak seusai peristiwa 1965, politiknya jelas-jelas terlihat dijalankan untuk memarginalkan kaum Tionghoa demi keuntungannya sendiri, baik politik maupun ekonomi.

Peraturan-peraturan rasialis bahkan dibentuk tanpa tedeng-aling oleh pemerintahan Soeharto. Itu terwujud misalnya, dalam Instruksi Presidium Kabinet RI No. 37/U/IN/6/1967 tentang Kebijaksanaan Pokok Penyelesaian Masalah Cina, Instruksi Presiden No.14/1967 tentang Agama, Kepercayaan, dan Adat istiadat Cina, ataupun Surat Edaran Menteri Penerangan No. 02/SE/Di tentang Larangan Penerbitan dan Pencetakan Tulisan/Iklan Beraksara dan Berbahasa Cina.

Lanjutkan membaca “Mengubah Ide Lama, Menolak Diskriminasi Tionghoa”